Yogyakarta – Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif menyatakan bahwa umat Islam perlu menyadari bahwa klaim besar Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin masih jauh dalam kenyataan. “Sudah seharusnya perintah Al Qur’an Surat Al Anbiya’ ayat 107 itu diusahakan maksimal sehingga perintah itu tidak sekedar dinyanyikan namun dilaksanakan. “ tegasnya.
Dalam acara seminar nasional yang membedah buku berjudul “Islam Dalam Bingkai Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan: sebuah Refleksi Sejarah” , Syafi’i mengungkapkan kegelisahannya sehingga buku setebal 388 halaman tersebut. Menurutnya, dengan hadirnya buku ini diharapkan ummat Islam “cepat siuman” karena tantangan yang masih sangat besar untuk mewujudkan perintah Allah tersebut.
Menurut Syafi’i, kalaupun suatu saat ummat Islam bisa mendominasi peradaban dunia, yang perlu diingat bahwa dengan besarnya Islam harus bisa menjadi payung bagi semua kalangan dan agama. “Bahkan orang Atheispun harus merasa terlindungi” terangnya. “Harus saling bantu membantu dalam urusan kemanusiaan” lanjut Profesor Emiritus Jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta tersebut.
Selain hal di atas, ummat Islam juga harus menyadari bahwa banyak pertentangan yang tidak perlu terjadi diantara ummat Islam yang harus segera diakhiri. “Akar pertentangannya sejak perang Siffin. Kita harus sadar bahwa dijaman Rasulullah tidak ada itu Sunni, Syi’ah, Khawarij yang saling merasa benar” kisahnya. Selanjutnya, Syafi’i mengingatkan bahwa kritiknya tentang pertentangan ummat Islam ini bukan berarti menyarankan ormas Islam seperti Nadhatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah harus bubar. “Harusnya ditanyakan kepada NU dan Muhammadiyah apakah keberadaannya sudah cukup mampu menjawab permasalahan ummat Islam ? “ tegasnya. “Harus ada pemikiran kreatif dari generasi muda NU dan Muhammadiyah, asal itu benar secara iman dan ilmu pengetahuan” lanjutnya.
Sementara itu, Fajurl Falakh, Tokoh Nadhatul Ulama yang juga pengajar di Fakultas Hukum UGM menyatakan bahwa dalam buku itu Syafi’i Ma’arif berusaha mengetengahkan Islam yang tidak mengurung diri, karena Islam yang terkurung dan tidak bergumul dengan tema-tema lainnya akan menjadi Islam yang tertatih-tatih. “Dalam buku ini Prof. Syafi’I Ma’arif membawa Islam, Nasionalisme dan Hak Asasi Manusia bukanlah tema-tema yang saling menegasikan” ujarnya.
Acara ini diselenggarakan oleh Majalah Suara Muhammadiyah bekerjasama dengan Maarif Institute Jakarta dan Penerbit Mizan, Kamis (16/07/2009) di Gedung PP. Muhammadiyah Cikditiro Yogyakarta. Selain Prof. DR. Ahmad Syafii Maarif yang menyampaikan Keynote Speaker, dan hadir Romo Haryatmoko (Dosen Universitas Indonesia) dan Muhammad Fajrul Falaahk., SH, M.Si (Pengajar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) dan Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag (Cendekiawan Muhammadiyah). (arif)
from : www.muhammadiyah.org
Filed under: opini
Assalamualaikum,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Kami dari IMM Komisariat Tawang Alun Universitas Jember
apa kabar saudaraku IMM UII
Waalaikumsalam….
Alhamdulillh masih terus berjuang untuk eksis dan komitmen untukmeraih mimpi terwujudnya masyarakt islam yang sebenar2nya..
Fastabiqul Khairaat…